Aneh… mungkin kata itu yang cocok untuk menggambarkan judul dari tulisan ini. Tidak sedikit pula yang bertanya-tanya apakah hal tersebut pernah terjadi dan sedang terjadi saat ini?? Jawabannya adalah sering terjadi bahkan saat ini juga sedang terjadi dengan eloknya, maka timbul lagi pertanyaan kapan?? Dimana?? Jawabannya resapilah dengan nurani masing-masing karena aku yakin anda semua masih memiliki nurani, dan mohon maaf sepertinya penulis sudah mulai terkikis nuraninya karena penulis memiliki nama sendiri dan yang pasti namanya bukan “nurani”.
Enaknya kita mulai darimana ya ?? apakah diawali dari kata ketakutan dulu atau ketidakadilan dulu ?? mungkin lebih seru jika diawali dengan kata memperkosa dulu karena aku yakin kata ini lebih bisa mengasah imajinasi anda diluar batas kemampuan anda yang kemungkinan besar hanya mampu bertahan 5 menit, benar apa betul?? Tapi kata kesabaran dan keikhlasan juga tidak kalah seru untuk diperbincangkan karena 2 kata ini identik dengan segala macam kebaikan dan kebenaran, tapi apakah mungkin 2 kata ini melahirkan kemunafikan ?? sangat mungkin apabila ke 5 kata tersebut dirangkum jadi 1 untuk menjadi sebuah kalimat “KETIKA KETAKUTAN DAN KETIDAKADILAN “MEMPERKOSA” KESABARAN DAN KEIKHLASAN”.
Yuuupp.. coba kita simak sedikit cerita tentang seorang pria yang hidup di negeri impian. Pria tersebut memiliki kemampuan, kedisiplinan dan etos kerja “sedikit” lebih baik dibanding teman-teman disamping kiri-kanan nya.
Wuich.. dilihat dari awal cerita pasti imajinasi anda langsung menyimpulkan bahwa pria tersebut sangat hebat dan yang pasti memiliki segudang kekayaan.. well .. well .. well jangan suka berimajinasi apalagi menyimpulkan sesuatu hanya melihat dari kulit luarnya. Dilanjut apa tidak ya ceritanya ?? Kita sudahi saja sampai disini yak arena capek lho ngetik terlalu panjang… oohhhh iya Bapak Yang Duduk Paling Belakang Sedang Mengangkat Tangan (disingkat BYDPBSMT), silahkan beri tanggapannya pak mengenai cerita ini !?
BYDPBSMT : Apakaha cerita ini benar sudah selesai lis?? (lis = penulis)
Lis : Sudah pak, cukup singkat padat dan jelas kan??
BYDPBSMT : iya.. sangat menarik pak, boleh saya Tanya sedikit lagi lis??
Lis : Owh.. sangat boleh pak.
BYDPBSMT : Bolehkah saya melanjutkan ceritanya ?? tapi saya nulisnya di jidat kamu lis ??
Lis : aw.. aw ada yang marah. Baiklah saya lanjutkan ceritanya pak BYDPBSMT.. terima kasih
dan silahkan duduk kembali.
Masuk Cerita negeri impian
Diawal mula pria ini bekerja di salah satu lembaga yang membidangi pendidikan di negeri impian tersebut. Dia mulai bekerja hampir 16 tahun di lembaga tersebut, banyak suka duka yang menyelimuti selama bekerja di sana namun semua itu bisa dia lalui dengan senang hati karena kondisi kerja sangat kondusif dan ada rasa keterikatan antar sesame pekerja. Setiap ada pekerjaan yang berat dan melelahkan pasti teman-teman kerjanya selalu ada untuk membantu karena pekerjaan yang datang tersebut masih bersifat manual dan siapapun pasti bisa membantu untuk menyelesaikan pekerjannya, begitu pula sebaliknya jika temannya membutuhkan bantuan maka dengan senang hati pria tersebut datang untuk membantunya. Hari-hari indah tersebut dia lalui bersama teman-temannya kurang lebih selama 8 – 9 tahun lamanya. Namun menginjak tahun ke 10 bekerja, petakapun mulai datang.
Tahun ke 10 bekerja
Pada saat itu muncul suatu kebijakan di negeri impian tersebut dengan memunculkan sebuah ide untuk memanfaatkan teknologi sebagai motor utama dibidang pendidikan. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya negeri impian itu berhasil menciptaka satu aplikasi yang luar biasa hebat untuk memajukan dunia pendidikan di negeri impian. Aplikasi tersebut mampu membaca jumlah real pendidik, tenaga pendidik, satuan pendidikan, jumlah siswa, sarana prasarana ditiap satuan pendidikan dan masih banyak lagi. Tak terasa aplikasi tersebut mampu menekan jumlah anggaran yang dikeluarkan, bahkan mampu memproteksi membengkaknya anggaran yang diakibatkan oleh tangan-tangan nakal yang sebelum ada aplikasi ini mereka mampu mengolah data manual (pemberkasan) menjadi sebuah uang yang mampu mengenyangkan perutnya. Sungguh luar biasa peran dari aplikasi tersebut, orang-orang pun mulai ramai memperbincangkan kehebatan dari aplikasi itu. “DakDikDuk” yuup itulah nama aplikasi yang lahir di negeri impian.
Tahun ke 11 bekerja
Tak terasa sudah 1 tahun aplikasi DakDikDuk di uji cobakan dan mulai dijalankan di tahun ini, perbaikan dari segala macam system mulai dibenahi oleh programmer negeri impian tersebut. Pria yang bekerja di lembaga tersebut mulai ditugaskan sebagai pemegang, mengerjakan sekaligus pengolah data aplikasi DakDikDuk karena atasan beralasan bahwa pria ini di anggap paling mampu mengerjakan aplikasi DakDikDuk disbanding teman-teman yang lainnya, wajah gembira dan senang terpancar jelas karena kepercayaan yang telah diberikan oleh atasannya. Pria tersebut mulai giat membaca panduan pengerjaan aplikasi tersebut dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, sedikit-demi sedikit pria inipun mampu menyelesaikan tugasnya dalam 1 tahun pelajaran. Tak terasa tahun pelajaran mulai berganti..
Tahun ke 12 bekerja
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pria ini dengan gagahnya kesana-kemari membawa tas punggung yang sangat besar seperti mau camping. Didalamnya berisi berkas-berkas manual yang akan dia entry ke dalam aplikasi, tak lupa pula dia membawa sebuah kotak hitam namun tipis dan bisa dibuka, ketika dinyalakan mirip dengan televisi berwarna “14 yang dulunya dia beli dengan merogoh kocek sendiri agar mampu menyelesaikan kewajiban yang sudah dipercayakan oleh atasannya. Nama kotak hitam itu adalah “TengTop”. Sungguh gagah pria ini karena selalu membawa TengTop padahal teman kerjanya tidak ada yang membawa bahkan untuk menyalakannya pun masih kesulitan.
Tahun ke 13 bekerja
Di tahun ini mulai ada kebijakan baru bahwa dalam pengambilan kebijakan serta penyaluran segala macam bantuan dan tunjangan akan di ambil berdasarkan hasil entry’an data dari aplikasi DakDikDuk. Pria tersebut mulai khawatir karena tumpuan keberlangsungan lembaganya, teman-teman sejawat yang berhak mendapatkan tunjangan serta siswa-siswi berada ditangannya. Tekanan yang sungguh luar biasa dia rasakan, sedangkan atasan dan teman-teman kerjanya yang dulu pernah bekerja bersama disaat ada tugas berat terlihat lebih santai karena sekarang sudah tidak ada lagi tugas berat yang diminta secara manual, semuanya mulai bertumpu pada 1 aplikasi yaitu DakDikDuk.
Tahun ke 14 bekerja
Fitur-fitur baru mulai bermunculan di dalam aplikasi DakDikDuk ini, tugas berat ditahun yang sebelumnya tidak berkurang malah semakin bertambah. Kesabaran dan keikhlasan menjadi alasan utama pria ini dalam bekerja demi membantu program pemerintah di negeri impian tersebut dan keberlangsungan lembaganya. Wajah ceria yang dulunya pernah terpampang jelas sedikit demi sedikit mulai memudar karena adanya tekanan yang luar biasa di dalam pikirannya.
Tahun ke 15 bekerja
Di tahun ini terjadi perubahan dan perbaikan yang lebih hebat lagi, yaaa.. fitur terbaru muncul yaitu fitur menu nilai di dalam aplikasi DakDikDuk. Tak hanya sampai disitu ada beberapa aplikasi baru yang memanfaatkan kehebatan dari aplikasi DakDikDuk, aplikasi baru tersebut menempel bagaikan parasit yang tetap setia menemani mangsanya kemanapun dia berjalan. “PemPek”… yaaaa itulah nama aplikasi yang selalu mengikuti kemanapun DakDikDuk berjalan. Tekanan demi tekanan selalu dialami pria tersebut karena ketika melihat website dari sumber aplikasi-aplikasi tersebut selalu muncul waktu hitung mundur bagaikan bom waktu yang siap meledak. Tak hanya sampai disitu tak jarang pula ada selembar edaran yang berisi tekanan yang lebih hebat lagi yaitu himbauan atau lebih tepatnya sebagai “ancaman” jika tidak selesai dalam waktu yang ditentukan maka akan terjadi bla.. bla.. blaa…
Tanpa terasa nurani pria ini mulai bangkit setelah mendapatkan tekanan dan merasa ada sebuah ketidakadilan di dalam program ini, namun apalah daya Ketakutan dalam mengungkapkan selalu membayang-bayangi pria ini. Sekali lagi pria inipun terdiam dengan menelan lagi kesabaran dan keikhlasan yang dulunya pernah dia bangkitkan demi kemajuan pendidikan di negeri impian tersebut.
Di awal Tahun ke 16 bekerja
Pil Pahit…. Itulah awal yang dia dapatkan setelah membaca petunjuk dan peraturan aplikasi DakDikDuk, sekali lagi tidak ada anggaran yang digelontorkan untuk orang yang bekerja dibalik layar. Tak hanya sampai disitu sekali lagi aplikasi tersebut ada beberapa pembaruan dan penambahan fitur yaitu penambahan menu jadwal dan ekstra kurikuler, selain itu aplikasi parasit masih setia menempel dan selalu setia menemani perjalanannya. Pria tersebut semakin bersedih, marah, jenuh, benci dan mulai bosan dengan semua ini, namun apalah daya dia hanya bisa memendam rasa itu semua didalam lubuk hatinya yang paling dalam, sambil di iringi gelak tawa dari beberapa teman sejawatnya yang mendapatkan hasil dari apa yang sudah dia kerjakan, bahkan lembaganya pun semakin kuat karena mendapatkan sokongan keuangan yang luar biasa dari pemerintah negeri impian dari jerih payahnya, tak lupa pula banyak siswa-siswi yang mendapatkan keringanan dan bantuan dari kerjanya sehingga anak-anak yang berhak mendapatkan pendidikan tidak terputus ditengah jalan.
Senyum kecut mulai terlihat di wajah pria tersebut karena akal sehatnya mulai bangkit, hati kecilnya mulai berontak dan berteriak “hooeeyyy bagaimana dengan kehidupanmu?? Masa depanmu ?? masa depan keluargamu ?? keberlangsungan hidup anak-anakmu ?? masa tua mu nanti disaat kamu tidak bekerja lagi ??” Teriakan-teriakan itu selalu muncul setiap saat ketika dia membuka kotak hitam dan mulai mengerjakan aplikasi DakDikDuk. Namun sekali lagi teriakan tersebut kembali tertutup dengan rasa “ketakutan” untuk mengungkapkan sesuatu, kembali lagi dia mencoba memerangi hati nuraninya dan akal sehatnya dengan kedok “keikhlasan dan kesabaran” padahal hati nurani dan akal sehatnya mengetahui bahwa ada “ketidakadilan” dalam hal ini. Sekali lagi kata “apalah daya” selalu menaungi hari-harinya. Hati nurani pria ini sesungguhnya sadar bahwa “kesabaran dan keikhlasan” yang selama ini dia kuatkan hanya akan melahirkan “kemunafikan” karena membohongi hati nurani dan kebenaran yang ada. Cerita ini hanya ada di negeri impian akan tetapi di negeri nyata tidak akan pernah terjadi hal semacam ini. Cerita negeri impian inilah yang melahirkan judul “KETIKA KETAKUTAN DAN KETIDAKADILAN “MEMPERKOSA” KESABARAN DAN KEIKHLASAN”.