Shinta tercinta. Suatu hari di
belantara aku melihatmu sendirian di bawah rimbun pohon mahoni. Kamu tidak tahu
Shinta, mahoni bukanlah trembesi, buahnya yang telah tua jika jatuh bisa saja
membuatmu terluka. Dan aku ingin membawamu pergi bukan karena takut kamu terluka,
tapi aku ingin membawamu bersanding di singgasana Alengka.
Seperti setiap trembesi di
belantara, akulah trembesi itu bukan mahoni yang pahit lagi melukai. Ya akulah
trembesi yang teduh meski panas kemarau membakar bumi. Mungkin itu hanya
perasaanku saja, tapi aku adalah benar-benar trembesi. Mungkin kamu belum
mengenal trembesi karena kamu adalah gadis kota yang sendirian di tengah
belantara. Tapi aku yakin kamu memahami maksudku. Tidak seperti kami para raksasa,
kamu mungkin baru saja lulus kuliah atau mungkin kamu sedang melanjutkan kuliah
kemudian jatuh cinta pada seorang pria. Lantas kalian menikah.
Shinta. Hanya sekilas aku
melihatmu dan secepat itu pula aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu, bukan
cuma merasa mencintaimu. Ini bukan cinta monyet, aku sudah terlalu tua untuk
bermain-main dengan cinta. Ini adalah cinta yang tulus dari hati yang paling
dalam.
Andai saja aku benar-benar
trembesi, bukan raksasa tentu kamu akan berlindung dibawah rimbunku. Sayang
sekali aku hanyalah perumpamaan trembesi tua. Tidak apalah, aku memang
benar-benar tua. Dan cinta tidak perlu melihat usia. Bukan begitu Shinta?
Tentu saja kamu tidak menjawabnya
Shinta cintaku.
Aku hanya mengangankanmu.
Mengimpikanmu yang tidak pernah hadir dalam mimpiku. Hanya khayalan Shinta.
Meski aku berharap kamu hadir dalam mimpi tidurku, tak pernah sekalipun kamu
singgah.
Titiyoni. Gondoyoni. Puspotajem.
Shinta cintaku. Begitulah
pujangga Alengka sering membual. Aku tahu Shinta, dia hanya berusaha membuatku
bahagia dan aku tahu dia telah menipuku. Tapi aku suka tipuanya meski aku tahu
telah ditipu. Dan suatu malam ketika lewat di samping gandoknya sayup kudengar
dia berbicara dengan gendakanya, dia menyadari kalau aku
tahu dia telah menipunya tapi dia pura-pura tidak tahu kalau aku tahu telah dia
tipu. Congor trocoh-nya, itulah yang membuatnya tetap bertahan
menjadi pujangga Astina.
Sudahlah Shinta. Biarkan dia ndleming
medar Bataljemur Adamakna, meski suaranya mleto ngglero toh
setidaknya bisa membawaku ke puncak khayalan bersamamu.
Shinta sayangku. Cintaku. Aku ini
seorang raja, penguasa dari wilayah tiada batas, panglima tertinggi dari bala
tentara raksasa. Tiada satupun tetangga Negara yang tidak tunduk di bawah
kakiku. Tapi Shinta, aku tak berdaya, aku lemah, aku terpuruk oleh senyummu.
Shinta cintaku. Lihatlah bala
tentaraku.
Datan pama ngungguli jurit pra
wadyabala.
Waspadakna………!
Pra raseksa rong bregodo cacahe
anitih rata tinarik sardula sirah singa. Pating glereng surake pinda waringin
rubuh.
Ah Shinta sayangku. Apakah kamu
terpesona?
Shinta cintaku. Kau lihat yang di
sana.
Lihatlah….!
Krida tan umpama. Pra wadya
raseksa sesumping dapuran pring kairing gandarwa sabuk ula luwuk, titian rata
tinarik naga sirah sima. Sratine pra bala bacingah bebinggel ula diwel, klat
bahu ula buhu.
Ah Shinta, Shinta sayangku kenapa
kamu tetap tidak terpesona. Atau karena pujangga tua di depanku memuakanmu?
Jika memang itu maumu biarlah dia ku pecat hari ini juga.
Tapi Shinta tentu kamu tidak
menjawabnya. Aku terbuai khayalan tentangmu Shinta. Dan kamu hanyalah angan
belaka. Rama keparat itu telah mendahului takdirku. Kau dengar kidung
katresnanku berkumandang menembus mega, menggaung di antara trembesi alun-alun
Alengka.
Kamu pasti tidak mendengarnya
Shinta sayangku.
Aku telah kehilangan banyak
harapan, bahkan kehilangan saudara. Saudaraku terpecah belah karena
ketidakpahaman akan gejolak cintaku. Wibisana telah lama pergi jauh terakhir ku
dengar dia mengabdi pada Rama, adiku yang sangat ku syangi telah terenggut.
Kumbakarna sudah terlalu muak dengan polahku dan memutuskan tidur mendengkur
selamanya. Dan kini haruskan cintaku padamu juga terenggut sebagaimana cinta
dan sayang pada saudaraku.
Betapa derita yang harus ku
tanggung perih tak terkira.
Shinta aku ini hanyalah pecinta
yang merana. Andai seluruh kekuasaanku dilepas itu tidak berarti apapun
dibanding melepas dirimu. Jika aku kemudian nekad membawamu bukan karena
apa-apa. aku hanya ingin mengungkap perasaan yang menyiksa. Aku ingin kamu
mencintaiku tulus, bukan karena aku kijang kencana. Akulah Rahwana yang membo
jadi kijang kencana.
Aku merasakan tulusnya uluran
tanganmu pada lelaki tua, aku merasakan getar hatimu ingin membelai kijang
kencana. Ulurkanlah tanganmu dan belailah aku si Rahwana ini.
Shinta impianku. Jika kijang itu
aku maka aku tidak bisa mengirimu kijang karena akulah kijang itu. Jika kamu
begitu benci Rahwana mengapa menginginkan kijang itu. Shinta kesaktianku mampu
menjadikan apapun jadi miliku, tapi apakah aku harus meneluhmu untuk mengemis
cintamu. Tidak Shinta. Aku menginginkan cintamu bukan menginginkan
penyerahanmu.
Shinta sayangku. Cintaku.
Terimalah kijang kencana ini. Inginkanlah sebagaimana ketulusanmu.
Shinta akulah kijang kencana itu.
Akulah Rahwana. Dasamuka. Pemburu
cinta yang kesepian.