Kepada
Sahabat
di Kejauhan
Sobat….
Malam semakin larut saat aku menginjakan kaki di pelataran harapan, sebuah harapan besar dalam do’a dan mimpi. Meski angin terus berkutat di atas genting rumah aku terus melangkah tanpa merasa peduli, tanpa merasa terbebani dari dosa yang telah terjadi setiap hari. Malam selalu menyapa dengan perasaan dingin dan tanpa senyum, seperti kemarin malam juga datang begitu saja tanpa mengucapkan salam, selain sebuah penyesalan karena datang sedikit terlambat dari jadwal.
Sobat….
Aku berusaha mengungkap semua perasaan di atas kertas kelam pada penghuung malam, namun tidak sepatah kata bisa aku tulis, semua menumpuk dalam khayalan. Dan itu terus-menerus terjadi hingga pagi benar-benar. Hingga suatu saat malam datang kembali, dan aku harus mencoba menyusun lagi kalimat yang telah hilang dari angan.
Sobat…..
Sambutlah rintihanku dalam setiap penderitaan, bukankah penderitaan adalah anugerah dari kesepian, dari kepergian seorang teman? Mungkin aku telah termakan khayalan hingga tenggelam dalam relung penyamaran. Tetapi aku ingin tetap bertahan dalam setiap langkah, dalam setiap kenyataan, bukan cuma dalam mimpi.
Sobat….
Aku tidak bisa…..
Mimpi itu selalu hadir, selalu datang membawa sejuta bayangan menakutkan. Dan aku tidak pernah menolak kehadiranya, tapi aku tidak ingin menemui sekalipun dalam tidur yang paling lelap. Aku ingin mimpi pergi jauh tanpa salam, tanpa warisan, tanpa harapan kembali.
Sobat….
Malam semakin larut, semakin gelap, semakin jauh membawa jiwaku dalam relung-relung kelam. Aku selalu ingin melawan dengan kekuatan tetapi aku merasa sangat lemah, aku ingin melawan dengan makian tetapi aku selalu dicaci, aku ingin melawan dengan teriakan tetapi aku selalu dibentak.
Sobat…
Maafkan semuanya.
Semuanya. Karena sudah tidak terhitung lagi apa yang harus dimaafkan.
Sahabatmu
di Sini
ADS HERE !!!