“Ceritakan padaku tentang seorang
pejuang,” Katanya padaku.
Maka akupun mulai mengingat
seorang lelaki dengan pakaian ambisi dan obsesi.
Namanya Sengkuni seperti nama
paman dari para Kurawa dari negeri antah berantah. Memang dialah orangnya.
Sengkuni. Sebuah nama yang mudah diingat, nama yang gampang melekat dalam
ingatan siapapun.
“Bagaimana kalau ku ceritakan
seorang paman bernama Sengkuni, yang juga seorang Patih dari keponakanya
sendiri, Duryudana.”
“Apakah dia seorang pejuang?”
“Begitulah kira-kira, juga
seorang guru yang baik.”
“Haruskah aku menunggu sementara
kamu belum bercerita, atau kamu mulai ragu atas perjuanganya?”
“Tidak…., tidak. Bahkan semua
orang sudah tahu tentang Sengkuni.”
“Setidaknya ada rumor yang sering
ku dengar tentangnya; bagaimana kelicikanya dan kelicinanya membalikan segala
tatanan dan aturan membuat Kurawa tetap mewarisi Hastina, sedangkan Pandawa
harus menjalani kehidupan sengsara meski memiliki hak menjadi penguasa dan
segala fasilitas yang mengikutinya.”
“Baiklah. Akan ku ceritakan
semuanya, dan tolong jangan menganggapku pendukung Kurawa. Aku tidak mengenal
mereka sama sekali, bahkan para dalang itu hanya menyampaikan cerita tanpa tahu
yang sebenarnya.”
“Maksudmu para dalang telah
berbohong?”
“Tidak….! Aku hanya berpikir
mengapa aku tidak bisa menyampaikan hal berbeda, sementara para dalang selalu
mengulang cerita Sengkuni yang penuh muslihat, cerita itu selalu sama dan para
penontonya sudah hafal di luar kepala. Tapi mereka selalu menunggu Sengkuni mengerjai
Pandawa, memuji Pandawa, mencaci Kurawa. Dan pada waktu lain mereka melakukan
hal yang sama.”
“Penonton…?”
“Juga dalangnya.”
“Biarkan aku minum dulu, dan akan
ku ceritakan pahitnya perjuangan Sengkuni.”
“……………………………………………………………………………………………………….!”
Aku pernah bertemu Sengkuni suatu
hari yang panas. Saat itu kemarau baru melanda negeri Hastina, pengerjaan
proyek air bersihlah yang mempertemukan kami berdua. Keprihatinan Duryudana
atas susahnya air bersih membuatnya harus menemukan cara mengatasi keadaan,
Sengkuni sebagai Patih sekaligus paman menyarankan sang keponakan membuat
saluran air dari yang kemudian ditampung dalam dam besar kemudian disalurkan ke
setiap rumah tanpa kecuali.
Sekian kali pertemuan membuat
kami semakin akrab. Saat peresmian acara Sengkuni mengajaku mampir ke rumah
dinasnya di selatan sungai yang membelah Hastina. Sebuah rumah yang sederhana
untuk ukuran pejabat, beberapa mobil antik merk VW, sebuah taman kecil
menghijau. Di tengahnya ada kolam dengan air jenih. Disamping rumah sebuah
pohon besar rindang menaungi sebuah gazebo penuh ukiran gaya Hastinapura,
disitulah kami menghabiskan sore sambil mengobrol.
“Aku ini apa, hanya seorang
Patih.”
Sebuah pernyataan yang terkesan
pasrah, tanpa daya, tidak seperti Sengkuni yang licik. Aku menghela nafas,
mencoba memandanhg wajahnya yang keriput digerogoti usia.
“Patih hanya seperti klambi salin, dipakai hanya saat
tertentu dan tanpa kesan. Bahkan mungkin tidak dipakai sama sekali.”
“Bukanya Patih itu jabatan
bergengsi nDorone?”
Sengkuni lemah menggeleng. “Itu
tidak berlaku di sini. Hastina adalah sesuatu yang berbeda.”
Sejak saat itu Sengkuni kerap
mengundangku hanya untuk sekedar ngobrol ngudar
ruwet, meski aku tidak pernah memberi solusi apapun.
Perjalananya menuju posisi patih
sebenarnya menjadi pertempuran tersendiri dalam hati kecilnya. Saudara
perempuanya yang jelita harus diboyong bedol kedaton dipersunting keturunan
Bharata, dan itu menjadi harapan tersendiri. Pandu yang membawanya ternyata
hanya sekedar caraka bagi kebahagiaan
kakaknya.
Sejak saat itu Sengkuni yang
ceria berubah menjadi bermuram durja. Menyendiri, nyepi, laku prihatin
menguatkan dirinya dan saudara perempuanya. Toh pada akhirnya lahirlah Kurawa
yang kemudian menjadi tanggungan Sengkuni seorang. Destrarata sebagai seorang
ayah pasrah bongkokan karena
keterbatasanya memandang dunia dan Gendari, demi rasa cinta ikut merasakan
bagaimana derita sang suami yang buta.
“Sebentar. Bukankan aku memintamu
menceritakan tentag seorang pejuang? Dan Sengkuni bagaimana kamu menyebutnya
pejuang, kejahatanya telah memakan korban meski hanya segolongan Pandawa. Toh sebuah
kejahatan nilainya bukan berapa banyak korbanya?”
“Di sinilah kamu telah menghakimi
Sengkuni, itu karena kamu belum mengenalnya.”
“Pernahkah kamu tahu berapa waktu
yang dihabiskan Sengkuni untuk menjaga kepercayaan Destrarata, menjaga Kurawa dari
cindil abang hingga mereka berkuasa. Apakah
kamu pernah menemui guru sedemikian hebatnya, menangani 100 orang sendirian. Lihatlah
betapa kekuasaan Duryudana menggetarkan setiap Negara disekitarnya. Bagaimana Durdudana
yang gagah bias berdiri tegak di tampuk kekuasaamn Banjarjunub.”
“Dan di sisi lain Destrarata
begitu menuntutnya atas pendidikan dann kesuksesan 100 orang, bukankah itu
seharusnya menjadi tanggung jawabnya? Sengkuni mampu memenuhi semua tuntutan itu,
jika kemudian Kurawa menjadi manusia tengik, apakah tidak seharusnya kenbaikan
yang diinginkan menjadi tanggung jawab ayahnya.”
“Sengkuni telah mengambil
bagianya dan tidak semua bagian Sengkuni adalah bagianya.”
“Maksudnya?”
“Pada bagian tertentu Sengkuni
tetap harus melakukan meski itu tidak menjadi keahlianya.”
“Termasuk mendidik ngaji?”
“Mungkin…..???
“Ah… Sudahlah aku harus
berangkat.”
“Ke mana? Boleh ikut?”
“Ke rumah Sengkuni, semalam aku
dapa WA darinya. Kelihatanya dia begitu gelisah.”
‘